LANDASAN TEORITIS
MULTIMEDIA PEMBELAJARAN
A. Landasan empiris.
Berdasarkan
landasan rasional empiris, pemilihan media pembelajaran harus mempertimbangkan
kesesuaian antara karakteristik pebelajar, karakteristik materi pelajaran, dan
karakteristik media itu sendiri. Siswa yang memiliki tipe belajar visual lebih menitik
beratkan pada ketajaman penglihatan. Artinya, bukti-bukti konkret harus
diperlihatkan terlebih dahulu agar mereka paham Gaya belajar seperti ini
mengandalkan penglihatan atau melihat dulu buktinya untuk kemudian bisa
mempercayainya. Ada beberapa karakteristik
yang khas bagai orang-orang yang menyukai gaya belajar visual ini. Pertama
adalah kebutuhan melihat sesuatu (informasi/pelajaran) secara visual untuk
mengetahuinya atau memahaminya, kedua memiliki kepekaan yang
kuat terhadap warna, ketiga memiliki pemahaman yang cukup
terhadap masalah artistik, keempat memiliki kesulitan
dalam berdialog secara langsung, kelima terlalu reaktif
terhadap suara, keenam sulit mengikuti anjuran secara lisan, ketujuh
seringkali salah menginterpretasikan kata atau ucapan.
Siswa
yang memiliki gaya belajar auditori mengandalkan pada pendengaran untuk bisa memahami
dan mengingatnya. Artinya, kita harus mendengar, baru kemudian kita bisa
mengingat dan memahami informasi itu. Karakter pertama
orang yang memiliki gaya belajar ini adalah semua informasi hanya bisa diserap
melalui pendengaran, kedua memiliki kesulitan
untuk menyerap informasi dalam bentuk tulisan secara langsung, ketiga memiliki kesulitan
menulis ataupun membaca.
Siswa
yang memiliki gaya belajar kinestetik mengharuskan individu yang bersangkutan menyentuh
sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia bisa mengingatnya. Tentu
saja ada beberapa karakteristik
model belajar seperti ini yang tak semua orang bisa melakukannya. Karakter pertama
adalah menempatkan tangan sebagai alat penerima informasi utama agar bisa terus
mengingatnya. Hanya dengan memegangnya saja, seseorang yang memiliki gaya
ini bisa menyerap informasi tanpa harus membaca penjelasannya.
B. Landasan Filosofis
Menurut Daryanto (2010:12) memaparkan landasan
filosofis penggunaan media pembelajaran yaitu
bahwa dengan digunakannya berbagai jenis media hasil teknologi baru di
dalam kelas, akan berakibat proses pembelajaran yang kurang manusiawi. Dengan
kata lain, penerapan teknologi dalam pembelajaran akan terjadi dehumanisasi.
Bukankah dengan adanya berbagai media pembelajaran justru siswa dapat mempunyai
banyak pilihan untuk digunakan media yang sesuai dengan karakteristik
pribadinya? Dengan kata lain siswa dihargai harkat kemanusiaanya diberi
kebebasan untuk menentukan pilhan, baik cara maupun alat belajar sesuai dengan
kemampuannya. Dengan demikian, penerapan teknologi tidak berarti dehumanisasi.
Sebenarnya perbedaan pendapat tersebut tidak perlu muncul, yang penting
bagaimana pandangan guru terhadap siswa dalam proses pembelajaran. Jika guru
menganggap siswa sebagai anak manusia yang memiliki kepribadian, harga diri,
motivasi, dan memiliki kemampuan pribadi yang berbeda dengan yang lain,maka
baik menggunaka media hasil teknologi baru atau tidak, proses pembelajaran yang
dilakukan akan tetap menggunakan pendekatan humanis.
C. Landasan Psikologis
Landasan
psikologis penggunaan media pembelajaran ialah alasan atau rasional mengapa
media pembelajaran dipergunakan ditinjau dari kondisi pembelajar dan bagaimana
proses belajar itu terjadi. Perubahan perilaku itu dapat berupa bertambahnya
pengetahuan, diperolehnya ketrampilan atau kecekatan dan berubahnya sikap
seseorang yang telah belajar. Pengetahuan dan pengalaman itu diperoleh melalui
pintu gerbang alat indera pebelajar karena itu diperlukan rangsangan (menurut
teori Behaviorisme) atau informasi (menurut teori Kognitif), sehingga respons
terhadap rangsangan atau informasi yang telah diproses itulah hasil belajar
diperoleh.
Kajian
psikologi menyatakan akan lebih mudah mempelajari hal yang konkrit dari pada
yang absrtak. Berkaitan dengan hubungan konkrit-abstrak dan kaitannya dengan
penggunaan media pembelajaran. Salah
satu gambaran yang paling banyak dijadikan acuan sebagai landasan teori penggunaan
media dalam proses belajar mengajar adalah Dale’s Cone of Experient (Kerucut
Pengalaman Dale) .
Berkaitan dengan konkret-abstrak dan kaitannya
dengan penggunaan media pembelajaran, ada beberapa pendapat di antaranya:
·
Bahwa dalam
proses pembelajaran hendaknya menggunakan urutan dari belajar dengan gambaran
atau film ( iconic representation of experiment) kemudian ke belajar
dengan simbol, yaitu menggunakan
kata-kata (symbolic representation ). Hal ini juga berlaku tidak hanya
untuk anak, tetapi juga untuk orang dewasa.
·
Bahwa
sebenarnya nilai dari media terletak pada tingkat realistiknya dalam proses
penanaman konsep, ia membuat jenjang berbagai jenis media mulai yang paling
nyata ke yang paling abstrak.
·
Membuat jenjang
konkrit-abstrak dengan dimulai dari siswa yang berpartisipasi dalam pengalaman
nyata, kemudian menuju siswa sebagai pengamat kejadian nyata, dilanjutkan ke
siswa sebagai pengamat terhadap kejadian yang disajikan dengan media, dan
terakhir siswa sebagai pengamat kejadian yang disajikan dengan symbol.
D. Landasan Teknologi
Sejalan
dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, teknologi komunikasi dan
informasi mengalami kemajuan yang sangat pesat untuk selanjutnya berpengaruh
terhadap pola komunikasi di masyarakat. Tuntutan masyarakat yang semakin besar
terhadap pendidikan serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, membuat
pendidikan tidak mungkin lagi dikelola hanya dengan pola tradisional, karena
cara ini tidak sesuai lagi dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat.
Hasil teknologi telah sejak lama dimanfaatkan dalam pendidikan. Banyak yang
dharapkan dari alat- alat teknologi pendidikan yang membantu mengatasi berbagai
masalah pendidikan sehingga dapat membantu siswa belajar secara
individual dengan efektif dan efisien.
Dalam
konteks pendidikan yang lebih umum, ataupun hanya proses belajar mengajar,
teknologi pendidikan merupakan pengembangan penerapan, dan penilaian sistem ,
teknik dan alat bantu untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas belajar
manusia.
Dalam upaya itu, teknolog berkerja mulai dari pengembangan dan pengujian teori-teori tentang berbagai media pembelajaran melalui penelitian ilmiah, dilanjutkan dengan pengembangan desainnya, produksi, evaluasi dan memilih media yang telah diproduksi, pembuatan katalog untuk memudahkan layanan penggunaannya, mengembangkan prosedur penggunaannya, dan akhirnya menggunakan baik pada tingkat kelas maupun pada tingkat yang lebih luas lagi. Semua kegiatan ini dilakukan oleh para teknolog dengan berpijak pada prinsip bahwa suatu media hanya memiliki keunggulan dari media lainnya bila digunakan oleh peserta didik yang memiliki karakteristik sesuai dengan rangsangan yang ditimbulkan oleh media pembelajaran itu. Dengan demikian, proses belajar setiap peserta didik akan amat dimudahkan dengan hadirnya media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik belajarnya. Media pembelajaran sebagai bagian dari teknologi pembelajaran memiliki enam manfaat potensial dalam memecahkan masalah pembelajaran, yaitu:
Dalam upaya itu, teknolog berkerja mulai dari pengembangan dan pengujian teori-teori tentang berbagai media pembelajaran melalui penelitian ilmiah, dilanjutkan dengan pengembangan desainnya, produksi, evaluasi dan memilih media yang telah diproduksi, pembuatan katalog untuk memudahkan layanan penggunaannya, mengembangkan prosedur penggunaannya, dan akhirnya menggunakan baik pada tingkat kelas maupun pada tingkat yang lebih luas lagi. Semua kegiatan ini dilakukan oleh para teknolog dengan berpijak pada prinsip bahwa suatu media hanya memiliki keunggulan dari media lainnya bila digunakan oleh peserta didik yang memiliki karakteristik sesuai dengan rangsangan yang ditimbulkan oleh media pembelajaran itu. Dengan demikian, proses belajar setiap peserta didik akan amat dimudahkan dengan hadirnya media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik belajarnya. Media pembelajaran sebagai bagian dari teknologi pembelajaran memiliki enam manfaat potensial dalam memecahkan masalah pembelajaran, yaitu:
·
Meningkatkan
produktivitas pendidikan ( Can make education more productive). Dengan media
dapat meningkatkan produktivitas pendidikan antara lain dengan jalan
mempercepat laju belajar siswa, membantu guru untuk menggunakan waktunya secara
lebih baik dan mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga guru
lebih banyak membina dan mengembangkan kegairahan belajar siswa.
·
Memberikan
kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual (Can make education
more individual).Pembelajaran menjadi lebih bersifat individual antara lain
dalam variasi cara belajar siswa, pengurangan kontrol guru dalam proses
pembelajaran, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang sesuai
dengan kemampuan dan kesempatan belajarnya.
·
Memberikan
dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran ( Can give instruction a more
scientific base). Artinya perencanaan program pembelajaran lebih sistematis,
pengembangan bahan pembelajaran dilandasi oleh penelitian tentang karakteristik
siswa, karakteristk bahan pembelajaran, analisis instruksional dan pengembangan
disaign pembelajaran dilakukan dengan serangkaian uji coba yang dapat
dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
·
Lebih
memantapkan pembelajaran (Make instruction more powerful).
Pembelajaran menjadi lebih mantap dengan jalan meningkatkan kapabilitas manusia menyerap informasi dengan melalui berbagai media komunikasi, di mana informasi dan data yang diterima lebih banyak,lengkap dan akurat.
Pembelajaran menjadi lebih mantap dengan jalan meningkatkan kapabilitas manusia menyerap informasi dengan melalui berbagai media komunikasi, di mana informasi dan data yang diterima lebih banyak,lengkap dan akurat.
·
Dengan
media membuat proses pembelajaran menjadi lebih langsung/seketika (Can make
learning more immediate). Karena media mengatasi jurang pemisah antara peserta
didik dan sumber belajar, dan mengatasi keterbatasan manusia pada ruang dan
waktu dalam memperoleh informasi, dapat menyajikan “kekonkritan” meskipun tidak
secara langsung.
·
Memungkinkan
penyajian pembelajaran lebih merata dan meluas (Can make access to education
more equal)
E. Landasan
Historis
Landasan
historis media pembelajaran ialah rational penggunaan media pembelajaran
ditinjau dari sejarah konsep istilah media digunakan dalam pembelajaran.
Perkembangan konsep media pembelajaran sebenarnya bermula dengan lahirnya
konsepsi pengajaran visual atau alat bantu visual sekitar tahun 1923. Yang
dimaksud dengan alat bantu visual dalam konsepsi pengajaran visual ini adalah
setiap gambar, model, benda atau alat yang dapat memberikan pengalaman visual
yang nyata kepada pebelajar. Kemudian kosep pengajaran visual ini berkembang
menjadi “audio visual instruction” atau “audio visual education” yaitu sekitar
tahun 1940. Sekitar tahun 1945 timbul beberapa variasi nama seperti “audio
visual materials”, “audio visual methods”, dan “audio visual devices”. Inti
dari kosepsi ini adalah digunakannya berbagai alat atau bahan oleh guru untuk
memindahkan gagasan dan pengalaman pebelajar melalui mata dan telinga.
Pemanfaat-an konsepsi audio visual ini dapat dilihat dalam “Kerucut Pengalaman”
dari Edgar Dale. Perkembangan besar berikutnya adalah munculnya gerakan yang
disebut “audio visual communication” pada tahun 1950-an. Perkembangan
berikutnya terjadi sekitar tahun 1952 dengan munculnya konsepsi “instructional
materials” yang secara kosepsional tidak banyak berbeda dengan konsepsi
sebelumnya. Beberapa istilah yang merupakan variasi penggunaan konsepsi
“instructional materials” adalah “teaching/ learning materials”, “learning
resources”.
DAFTAR PUSTAKA
Daryanto. 2010.Media Pembelajaran.Yogyakarta: Gava Media.
Arsyad, Azhar. 2013. Media
Pembelajaran Edisi Revisi. Jakarta: Rajawali Pers.