Sebagai komponen dalam system pembelajaran, pemilihan dan
penggunaan multimedia pembelajaran harus memperhatikan karakteristik komponen,
seperti : tujuan, materi, strategi dan juga evaluasi pembelajaran. Menurut
Mayer, prinsip-prinsip multimedia pembelajaran yaitu :
- Prinsip Multimedia
Multimedia
principle merupakan teori yang dipelajari secara
mendalam oleh Richard Mayer. Mayer mengatakan bahwasanya prinsip ini
menyatakan, gabungan kata-kata (words) dan gambar lebih kondusif
digunakan untuk pembelajaran, jika dibandingkan dengan yang terdiri atas teks
ataupun gambar saja. Hasil studi menunjukkan bahwa peserta didik tidak terlibat
lebih mendalam dalam pembelajaran ketika pembelajaran tersebut hanya terdiri
atas teks saja, hal itu tidak akan menghubungkan antara apa yang mereka baca
pada teks dengan pengetahuan baru ataupun yang sudah ada sebelumnya.
Prinsip ini
menyatakan bahwa siswa bisa belajar lebih baik dengan kata-kata dan gambar-gambar
dibandingkan dengan hanya kata-kata atau gambar saja. Yang
dimaksudkan dengan kata-kata adalah teks tercetak di layar yang dibaca pengguna
atau teks ternarasikan yang didengar pengguna melalui speaker atau headset.
Yang dimaksudkan dengan gambar adalah ilustrasi statis seperti gambar, diagram,
grafik, peta, foto, atau gambar dinamis seperti animasi dan video. Clark &
Mayer (2011:70) menggunakan istilah penyajian multimedia untuk menyebut segala
penyajian yang berisi kata-kata dan gambar.
Dengan
menambahkan ilustrasi pada teks atau menambahkan animasi pada narasi maka akan
membantu siswa lebih mendalami materi atau penjelasan yang disajikan.
Menyajikan penjelasan dengan kata-kata dan gambar-gambar bisa menghasilkan
pembelajaran lebih baik daripada menyajikan dengan kata-kata saja. Saat
kata-kata dan gambar disajikan secara bersamaan siswa mempunyai kesempatan
untuk mengkonstruksi model-model mental verbal dan pictorial dan membangun
hubungan diantara keduanya.
- Prinsip Keterdekatan Ruang
Prinsip ini
menyatakan bahwa siswa bisa belajar lebih baik saat kata-kata dan gambar-gambar
yang saling terkait disajikan saling berdekatan daripada saling berjauhan di
halaman atau di layar. Saat kata-kata dan gambar-gambar terkait saling
berdekatan di halaman (dalam buku) atau layar (dalam komputer) maka siswa tidak
harus menggunakan sumber-sumber kognitif secara visual mencari di halaman atau
layar itu. Siswa akan lebih bisa menangkap dan menyimpan materi bersamaan di
dalam memori kerja pada waktu yang sama.
- Prinsip Keterdekatan Waktu
Prinsip ini
menyatakan siswa bisa belajar lebih baik saat kata-kata dan gambar-gambar yang
terkait disajikan secara simultan (bersamaan) daripada bergantian. Saat bagian
narasi dan animasi yang terkait disajikan dalam waktu bersamaan, akan lebih
memungkinkan siswa untk bisa membentuk representasi mental atas keduanya dalam
memori kerja dalam waktu bersamaan. Hal ini membuat siswa lebih bisa membangun
hubungan mental antara representasi verbal dan representasi visual. Jika waktu
antara mendengar kalimat dan melihat animasi relative pendek, maka siswa masih
bisa membangun koneksi antara kata-kata dan gambar. Jika mendengar keseluruhan
narasi yang panjang dan melihat keseluruhan animasi dalam waktu yang terpisah
maka siswa kesulitan membangun koneksi tersebut.
- Prinsip Koherensi
Prinsip
koherensi bisa dipecah menjadi tiga versi yang saling melengkapi :
(1) pembelajaran siswa terganggu jika kata-kata dan
gambar-gambar menarik namun tidak relevan ditambahkan ke presentasi multimedia.
(2) pembelajaran siswa terganggu jika terdapat suara dan
music yang menarik namun tidak relevan,
(3) pembelajaran siswa akan meningkat jika kata-kata yang
tidak diperlukan disingkirkan dari presentasi multimedia.
Gambar-gambar dan kata-kata yang menarik tapi tidak relevan
bisa mengalihkan perhatian siswa dari isi materi yang penting, dan bisa
mengganggu proses penataan materi. Dalam penyajian materi melalui multimedia
siswa cenderung bisa belajar lebih banyak dan mendalam jika materi disajikan
secara lebih ringkas. Oleh karena memori kerja otak pada manusia itu terbatas
maka harus difokuskan pada materi yang penting.
- Prinsip Modalitas
Prinsip
modalitas menyatakan bahwa siswa bisa belajar lebih baik dari animasi dan
narasi (kata yang terucapkan) daripada dari animasi dan kata tercetak di layar
(Mayer, 2009:197). Berdasarkan teori kognitif dan bukti riset, Clark &
Mayer (2011:117) menyarankan untuk menarasikan teks daripada menyajikan teks
tercetak di layar saat gambar (statis maupun bergerak) menjadi fokus kata-kata
dan saat keduanya disajikan pada waktu yang bersamaan.
Jika gambar
dan kata-kata bersama-sama disajikan secara visual (yakni sebagai animasi dan
teks) maka saluran visual/pictorial yang bekerja ekstra sedangkan saluran lain
(verbal) tidak berfungsi. Jika kata-kata disajikan secara auditory maka kedua
saluran akan berfungsi.
- Prinsip Redundansi
Prinsip ini menyatakan bahwa siswa
belajar lebih baik dari gambar dan narasi daripada dari gambar, narasi, dan
teks tercetak di layar (Mayer, 2009:215). Implikasi dari hal ini adalah saran
dari Clark & Mayer (2011:125) untuk tidak menambahkan teks tercetak di
layar ke gambar yang sedang dinarasikan. Clark & Mayer (2011:135)
mengemukakan alasan bahwa siswa akan lebih memperhatikan teks tercetak di layar
daripada ke gambar yang berkaitan. Saat mata mereka fokus di kata-kata
tercetak, siswa tidak bisa melihat ke gambar yang sedang dinarasikan. Juga,
siswa berusaha membandingkan teks tercetak dengan narasi yang diucapkan
sehingga membebani proses kognitif. Karena itulah, untuk gambar yang sedang
dinarasikan, hendaknya tidak ditambahkan teks tercetak di layar.
Pada skenario pembelajaran multimedia,
kita banyak melihat adanya teks dan audio yang dijalankan secara simultan.
Prinsip redudansi menyatakan bahwasanya para peserta didik bisa melakukan
pembelajaran dengan lebih baik jika hanya ada animasi dan narasi. Informasi
teks yang ditampilkan secara visual menjadi materi yang redundan. Mengeliminasi
materi-materi yang bersifat redundan, menghilangkan narasi dan teks yang
bersifat identik merupakan cara yang tepat agar peserta didik bisa melakukan
pembelajaran dengan baik. Alasannya adalah orang-orang tidak bisa fokus jika
mendengar dan melihat pesan verbal secara bersamaan selama presentasi
pembelajaran (Hoffman, 2006).
- Prinsip Perbedaan Individual
Prinsip ini
menyatakan bahwa Siswa yang berpengetahuan lebih tinggi bisa menggunakan
pengetahuan yang dimiliki sebelumnya untuk mengkompensasi atas kurangnya
petunjuk dalam presentasi. Siswa yang berpengetahuan rendah kurang bisa
melakukan pemrosesan kognitif yang berguna saat presentasinya kurang petunjuk.
Siswa yang memiliki kemampuan spasial yang tinggi memiliki kapasitas kognitif
untuk secara mental memadukan reprentasi verbal dan visual dari presentasi
multimedia yang ada. Siswa yang berspasial rendah harus mengerahkan kapasitas
kognitif yang begitu banyak untuk memahami apa yang disajikan.
- Prinsip Segmentasi Dan Pra Latihan
Prinsip
segmentasi menyarankan untuk memecah materi pelajaran yang besar menjadi
segmen-segmen yang kecil (Clark & Mayer, 2011:207). Saat sebuah materi
pembelajaran kompleks, materi itu perlu dibuat menjadi sederhana dengan
dibagi-bagi menjadi beberapa bagian yang dapat diatur kemunculannya.
Clark & Mayer (2011:210)
beralasan bahwa saat siswa menerima sajian yang berkelanjutan dan berisi
konsep-konsep yang saling berhubungan, hasilnya adalah sistem kognitif menjadi
kelebihan muatan, terlalu banyak pemrosesan yang dibutuhkan. Siswa tidak
mempunyai kapasitas kognitif yang cukup untuk dilibatkan dalam pemrosesan
esensial yang dibutuhkan untuk memahami materi tersebut. Solusi masalah di atas
adalah membagi-bagi materi pelajaran menjadi beberapa bagian yang dapat diatur,
misalnya dengan memberi tombol “Lanjutkan”.
Prinsip pra-latihan menyarankan
untuk memastikan siswa mengetahui nama dan karakteristik konsep-konsep penting
(Clark & Mayer, 2011:212). Sebelum siswa belajar proses atau mengerjakan
latihan pada suatu multimedia interaktif, hendaknya siswa diberi materi
konsep-konsep penting berkaitan dengan proses yang akan dipelajari atau latihan
yang akan dikerjakan. Contohnya, sebelum siswa melihat video demonstrasi cara
membuat tabel basis data, siswa perlu mengetahui apa itu tabel, field,
dan primary key.
Clark & Mayer (2011:215)
menyatakan bahwa pra latihan dapat membantu pemula untuk mengelola pemrosesan
materi kompleks dengan mengurangi jumlah pemrosesan esensial yang mereka
lakukan saat presentasi disajikan. Saat siswa sudah mengetahui apa itu primary
key, mereka bisa mengalokasikan proses kognitif untuk membangun model
mental bagaimana peran primary key dalam perancangan sebuah tabel.
Dengan demikian, alasan diperlukannya prinsip pra-latihan adalah prinsip ini
membantu pengelolaan pemrosesan esensial yang dilakukan siswa dengan
mendistribusikan materi-materi ke dalam bagian pra-latihan dari materi
pembelajaran.
9. Prinsip Personalisasi
Prinsip
personalisasi menyarankan agar pengembang multimedia menggunakan gaya
percakapan dalam narasi daripada gaya formal (Clark & Mayer, 2011:182).
Gaya percakapan di antaranya dicapai dengan menggunakan bahasa orang pertama
dan orang kedua serta dengan suara manusia yang ramah. Clark & Mayer (2011:184) menyatakan bahwa riset dalam proses
diskursus menunjukkan bahwa manusia bekerja lebih keras untuk memahami materi
saat mereka merasa berada dalam percakapan dengan seorang teman, daripada
sekadar menerima informasi. Mengekspresikan informasi dalam gaya percakapan
dapat merupakan cara untuk mempersiapkan proses kognitif siswa. Clark &
Mayer (2011:184) menambahkan pula bahwa instruksi yang mengandung petunjuk
sosial seperti gaya percakapan mengaktifkan perasaan kehadiran sosial, yaitu
perasaan sedang dalam percakapan dengan pengarang. Perasaan kehadiran sosial
ini mengakibatkan pembelajar terlibat dalam proses kognitif yang lebih dalam
selama belajar dengan berusaha lebih keras memahami apa yang pengarang ucapkan,
yang hasilnya adalah hasil belajar yang lebih baik.
DAFTAR
PUSTAKA
Mayer, Richard. 2011. The
Cambridge Handbook of Multimedia Learning. Cambridge University Press.
Mengapa siswa bisa belajar lebih baik dengan kata-kata dan gambar-gambar dibandingkan dengan hanya kata-kata atau gambar saja?
BalasHapusKalau menurut saya, kata2 saja terlalu membosankan. Jika gambar saja, bisa saja mereka salah mengartikan gambar atau tidak paham dengan maksud gambar nya. Makanya lebih baik gambar dan kata2. Selain gambar yang menarik, kita perlu menjelaskan makna dari gambar tersebut juga.
Hapusapakah ada dari ke 9 prinsip yang anda jelaskan yang menurut anda sulit untuk diterapkan?
BalasHapusBila 9 prinsip yang sudah anda jelaskan salah satu saja tidakbbisa terlaksana, apakah proses pembelajaran multimedia tetap bisa terlaksana?
BalasHapuskarena ketika sedang menjelaskan suatu materi maka siswa akan lebih paham dengan menunjukkan contoh konkritnya yaitu bisa dalam bentuk gambar struktur molekul misalnya. selain membuat proses pembelajran juga tidak monoton, siswa akan lebih tertarik mengenai materi tersebut sehingga akan lebih paham dibandingkan jika guru hanya menjelaskan dengan kta-kata saja
BalasHapusmenurut saya prinsip koherensi yang sulit untuk diterapkan, karna ketika kita membuat suatu media ppt misalnya maka kita berusaha membuat agar pembeljaran menjadi lebih menarik namun sering kita alami dengan media tersebut justru materi yang ingin kita sampaikan tidak diterima secara optimal oleh siswa, oleh sebab itu Gambar-gambar dan kata-kata yang menarik tapi tidak relevan tidak perlu ditampilkan karena bisa mengalihkan perhatian siswa dari isi materi yang penting, dan bisa mengganggu proses penataan materi.
BalasHapusbila salah satu prinsip tidak terlaksana, maka proses pembelajran akan berlangsung tidak efektif.dalam membuat pembelajran berbasis multimedia ini 9 prinsip tersbut hrus terpenuhi agar memudahkan kita dalam menjelaskan materi dan siswa pun dapat lebih memahami materi yang kita jelaskan. misalnya jika prinsip koherensi tidak terlaksana maka ketika kita sedang menjelaskan, perhatian siswa akan teralihkan karena gambar-gambar animasi atau kata-kata yang tidak relevan dengan materi. sehingga proses pembelajran pun tidak berlangsung dengan baik dan tidak sesuai dengan yang kita harapkan.
BalasHapusjelaskan menurut anda Multimedia yang seperti apa yang cocok digunakan dalam pembelajaran di indonesia ?
BalasHapussemua media memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. multimedia yang baik adalah yang telah memenuhi prinsip-prinsip dalam pembuatan multimedia pembelajran. sehingga multimedia yang cocok menurut saya adalah yang dapat mencakup bermacam-macam gaya belajar siswa, karena siswa sendri memiliki gaya belajr yang berbeda-beda
HapusJadi apakah suatu multimedia itu harus memenuhi seluruh prinsip yang anda jelaskan di atas?
BalasHapusmenurut saya iya, karena ketika semua prinsip tersebut terpenuhi maka multimedia pembelajran dapat menjadi lebih efektif dan lebih baik ketika digunakan untuk menjelaskan materi kepada siswa
Hapusjelaskan mengapa prinsip pengandaian itu perlu mencakup pada prinsip-prinsip media pembelajaran?
BalasHapuspada prinsip pengandaian Menjelaskan materi dengan audio meningkatkan belajar. Siswa belajar lebih baik dari animasi dan narasi, daripada dari animasi dan teks pada layar.
Hapusmenurut anda Apakah prinsip-prinsip ini harus berjalan seluruhnya?
BalasHapusmenurut saya dalam multimedia pembelajaran seluruh prinsip ini harus diterapkan agar diperoleh media yang tepat dan efektif digunkan dalam pembelajran
HapusPenggunaan media harus mempertimbangkan kecocokan ciri media dengan karakteristik materi pelajaran yang disajikan. tolong berikan contohnya!
BalasHapusmisalnya pada materi teori atom maka kita harus mencari media yang dapat mengkonkritkan bagaimana bentuk-bentuk atom dapat dipilih dengan media alat peraga ataupun multimedia
HapusBerikan contoh dari prinsil koherensi?
BalasHapusprinsip koherensi maksudnya adlah dalam pembuatan multimedia pembelajran contohnya ppt maka kata-kata, gambar, suara, video, animasi yang tidak perlu dan tidak relevan tidak perlu dicantumkan karena dapat mengalihkan perhatian siswa. jadi ppt harus dibuat secara ringkas Oleh karena memori kerja otak pada manusia itu terbatas maka harus difokuskan pada materi yang penting.
HapusApakah prinsip-prinsip tersebut saling terkait? Mengapa? Bagaimana jika salah satunya tidak diterapkan?
BalasHapusmenurut saya prinsip tersebut semuanya saling berkaitan, oleh sebab itu dalam pembuatan multimedia pembelajran kesemua prinsip tersebut harus terpenuhi agar terciptanya media yang baik dan efektif diterapkan pada siswa
Hapusapakah prinsip yang mendasar dalam sebuah pemilihan media pembelajaran?
BalasHapusprinsip uang mendasar dalam pemilihan media pembelajran adalah hrus sesuai dengan materi yang ingin kita jelaskan karena setiap media memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing oleh sebab itu guru harus dapat memilih media mana yang cocok digunakan yang disesuaikan dengan gaya belajr siswa
HapusSedikit menambahkan.
BalasHapusBerdasarkan kondisi internal dan eksternal, Gagne menjelaskan bagaimana proses belajar itu terjadi. Model proses belajar yang dikembangkan oleh Gagne didasarkan pada teori pemrosesan informasi, yaitu sebagai berikut :
1. Rangsangan yang diterima panca indera akan disalurkan ke pusat syaraf dan diproses sebagai informasi.
2. Informasi dipilih secara selektif, ada yang dibuang, ada yang disimpan dalam memori jangka pendek, dan ada yang disimpan dalam memori jangka panjang.
3. Memori-memori ini tercampur dengan memori yang telah ada sebelumnya, dan dapat diungkap kembali setelah dilakukan pengolahan.
Seperangkat proses yang bersifat internal yang dimaksud oleh Gagne adalah kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan terjadinya proses kognitif dalam diri individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
Teori pemrosesan informasi bermula dari asumsi bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan salah satu hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut teori ini, belajar merupakan proses mengelola informasi, namun teori ini menganggap sisitem informasi yang diproses yang nantinya akan dipelajari siswa adalah yang lebih penting. Karena informasi inilah yang akan menentukan proses dan bagaimana proses belajar akan berlangsung akan sangat oleh sistem informasi yang dipelajari.
Robert Gagne seorang ahli psikologi pendidikan mengembangkan teori belajar yang mencapai kulminasinya (titik uncak) pada “The Condition of Learning”. Banyak gagasan Gagne tentang teori belajar, seperti belajar konsep dan model pemrosesan informasi, pada bukunya “The Condition of Learning” mengemukakan bahwa: Learning is change in human disposition or capacity, wich persists over a period time, and which is not simply ascribable to process a groeth.
Dalam bukunya Robert M. Gagne disebutkan bahwa : A very special kind of intellectual skill, of particular in probelem solving, is called a cognitive strategy. In term of modern learning theory, a cognitive strategy is a control process . An internal process by means of which thinking. Gagne mengemukakan delapan fase dalam satu tindakan belajar. Fase-fase itu merupakan kejadian-kejadian eksternal yang dapat distrukturkan oleh siswa atau guru. Setiap fase dipasangkan dengan suatu proses yang terjadi dalam pikiran siswa. Kejadian-kejadian belajar itu akan diuraikan dibawah ini, yaitu:
1. Fase motivasi : siswa yang belajar harus diberi motivasi untuk memanggil informasi yang telah dipelajari sebelumnya.
2. Fase pengenalan : siswa harus memberikan perhatian pada bagian-bagian yang esensial dari suatu kejadian instruksional, jika belajar akan terjadi.
3. Fase perolehan : apabila siswa memperhatikan informasi yang relevan, maka ia telah siap untuk menerima pelajaran.
4. Fase retensi : informasi baru yang diperoleh harus dipindahkan dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang. Ini dapat terjadi melalui penggulangan kembali
5. Fase pemanggilan : pemanggilan dapat ditolong dengan memperhatikan kaitan-kaitan antara konsep khususnya antara pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya.
6. Fase generalisasi : biasanya informasi itu kurang nilainya, jika tidak dapat diterapkan diluar konteks di mana informasi itu dipelajari.
7. Fase penampilan : tingkah laku yang dapat diamati. Belajar terjadi apabila stimulus mempengaruhi individu sedemikan rupa sehingga performancenya berubah dari situasi sebelum belajar kepada situasi sesudah belajar.
8. Fase umpan balik : para siswa harus memperoleh umpan balik tentang penampilan mereka yang menunjukkan apakah mereka telah atau belum mengerti tentang apa yang diajarkan.
saya sependapat dengan ikhsan bahwa proses penerimaan informasi didasarkan pada kondisi internal dan eksternal. kondisi internal yang dimaksud oleh Gagne adalah kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan terjadinya proses kognitif dalam diri individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
Hapussaya sependapat dengan tutut bahwa dengan adanya media pembelajran maka akan mempengaruhi proses tercapainya tujuan pembelajran. jadi pemilihan media pembelajran khususnya pada multimedia pembelajran harus memenuhi prinsip-prinsip tersebut agar media yang digunakan lebih efektif
BalasHapusBerikan contoh prinsip personalisasi
BalasHapusPrinsip personalisasi menyarankan agar pengembang multimedia menggunakan gaya percakapan dalam narasi daripada gaya formal (Clark & Mayer, 2011:182). Gaya percakapan di antaranya dicapai dengan menggunakan bahasa orang pertama dan orang kedua serta dengan suara manusia yang ramah.saya kurang mengerti maksud dari kalimat ini dan berikan contoh menggunakan bahasa orang pertama dan kedua serta dengan suara manusia yang ramah?
BalasHapus